Kata orang usia hanyalah angka. Tapi bagi saya usia adalah
perjalanan. Perjalanan dan perjuangan. Akan saya bagi perjalanan saya disini.
Tyas kecil adalah Tyas yang susah makan, yang setiap waktu
makan selalu dimarahin mama karena
mulutnya nggak mangap-mangap. Haha iya
Tyas kecil itu kurus, kata mama ‘kena angin aja jatoh’. Tapi mungkin sebenarnya karena ukuran kepala
yang tidak seimbang dengan badan saya.
Saya berhasil mempertahankan posisi sebagai anak tunggal
mama papa hanya sampai pada perjalanan hidup saya di tahun kedelapan. Iya karena
pada akhirnya mama hamil. Saat itu perasaan saya tidak karuan, tentu saya
senang karena saya tak akan sendiri lagi, punya temen main. Tapi sebagian
lainnya dikuasai rasa takut, ‘jangan-jangan kalo punya adek perempuan nanti aku
kalah cantik, kalah putih’. Haha entah mengapa warna kulit menjadi masalah bagi
saya, mama yang berkulit putih bersih selalu membuat saya iri setiap kali
beliau selalu terlihat oke memakai baju warna apapun, sedangkan saya terlihat
jelek dengan baju warna-warna tertentu. Warna kulit papa yang lebih gelap
dibanding mama lah yang menurun pada saya. Dulu saya benar-benar sedih dengan
kenyataan itu, tapi seiring berjalannya waktu saya bisa menerima dan mensyukuri
apapun warna kulit saya. Kata mama ‘yang penting sehat’.
Sekian bulan menanti dan TARAAAAAAA..! Lahirlah adik
perempuan saya, namanya Kintan. Cantik, putih dan lucu. Kedekatan saya dengan
mama selama ini sempat terganggu, tidak terbiasa membagi mama selama
bertahun-tahun tentu butuh proses untuk akhirnya bisa merelakan. Tapi akhirnya
bisa juga, mamaku adalah mama adikku juga. Punya adik tidak lagi menjadi
hambatan bagiku untuk tetap dekat dengan mama. Sebenarnya dulu saya juga cukup
dekat dengan papa, tak jarang saya menangis saat sore tiba tapi papa tak
kunjung pulang. Tapi entahlah sepertinya saya lebih banyak punya kisah bersama
mama untuk diingat dan diceritakan.
Mama adalah segalanya. Mama itu teman, kakak, ibu, guru,
musuh, seeeemuanya! Sejak kecil saya tak pernah punya rahasia, apa yang saya
tau mama pasti tau. Dan saya juga merasa begitu pula sebaliknya. Mama bisa
sangat nyaman curhat apapun pada saya. Bahkan pada Tyas kecil, yang waktu itu
masih kelas 1 SD. Mama membagi apapun pada saya, semua kisahnya. Saya tau
banyak hal, banyak masalah. Saya tau saat itu kondisi keuangan keluarga kami
memburuk, papa kehilangan pekerjaannya sempat beberapa kali. Setiap malam mama
menangis dan selalu saya yang menemani, saya mendengarkan semua keluh kesah
mama. Mama selalu bilang ‘hidup itu untuk berjuang dek, sampe capek yang capek
sekali. Tapi nanti aja istirahatnya, saat kita ga lagi punya waktu di dunia ini’.
Dan benar saja, mama membuktikan semua ucapannya. Apapun beliau
lakukan untuk membuat keadaan yang buruk saat itu tetap baik-baik saja. Mulai dari
berjualan beras, berjualan baju, parfum dan sendal. Bahkan ikut kerja ke
tetangga yang punya usaha catering. Saya ingat sayalah yang dulu mengantarkan
barang jualan ke tetangga-tetangga sekitar rumah, karena mama harus menjaga
adik. Saya sempat menangis karena saya merasa malu harus berjualan. Tapi mama
selalu bilang, ‘jangan malu.. jualan itu bukan mencuri, dek’. Dan akhirnya
dengan air mata saya tetap berjalan keluar rumah membawa dagangan mama.
Ketika mama harus memasak setiap tetangga saya ada pesanan
catering, mama berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang pagi berikutnya. Saya
yang menjaga adik. Ah sedih sekali melihat perjuangan mama untuk kami
anak-anaknya sampai rela kehilangan waktu istirahatnya.
Saya masih ingat betul pada suatu malam mama sempat menelpon
adiknya di Jakarta, mama bilang kalau mama tak punya uang untuk membeli susu. Dan
saat mama menutup teleponnya mama menghampiri saya dan berkata ‘dek, yang beliin kamu susu selama ini
tante-tantemu loh, nanti kalo kamu sudah besar jangan lupa mereka yaa..’ Dan aaah
seketika itu juga air mata saya mengalir, saya yang masih seusia anak SD waktu
itu tak bisa berbuat banyak selain bertekad untuk menjadi anak yang pintar dan
kelak menjadi orang yang sukses yang bisa membahagiakan orang tua.
Namun prakteknya, saya berkali kali gagal. Maafkan aku mama,
aku gagal masuk SMP unggulan.. dan maafkan aku lagi mama aku juga gagal masuk
SMA dan Universitas Negri. Entah selalu saja ada hal yang akhirnya membuat saya
gagal mencapai target saya. Sakit sebelum ujian masuk SMP, pindah rumah ke luar
kota dan tak ada persiapan untuk tes masuk SMA di kota tujuan karena berbeda
peraturan dan jatuh pingsan di hari saya
harus berjuang untuk tes masuk universitas negeri. Maafkan aku mama..
Mama selalu bilang, sebenarnya mama ingin jadi wanita karir.
Tapi saat menikah dengan papa, papa melarang mama untuk bekerja dan mama
menuruti permintaan papa. Pekerjaan papa yang tidak stabil yang akhirnya
membuat mama menyesali keputusannya waktu itu. Papa berasal dari keluarga kaya
raya. Tapi karena hidup enaknya, saat muda papa tidak serius menempuh
pendidikan. Hikmah yang bisa diambil dari semua itu adalah kekayaan sebanyak
apapun bisa habis saat yang memilikinya tidak mampu mengelola dengan baik. Saya
sedang tidak menyalahkan siapapun, tapi mari kita belajar bersama dari kisah ini.
Saat ini saya mahasiswi semester 6 yang tak lama lagi lulus
(amin). Semoga kali ini saya mampu membahagiakan mama, melanjutkan dan meraih
apa yang menjadi cita-cita dan harapan mama, dan nantinya membina keluarga
sebaik yang jadi harapan mama papa..

No comments:
Post a Comment