6 July 2012

Saya Bukan Teman!

Saya tidak memiliki banyak teman. Yang saya sebut teman disini adalah sosok yang saya biarkan mengenal diri saya lebih dari sekedar nama. Mengenai bagaimana sebaliknya, bisakah saya mengenal teman saya lebih dari sekedar nama juga? Sebagian dari mengenal yang bisa saya dapat, tentu harus dengan kerelaan sang teman itu sendiri.
Sebenarnya bukan tanpa alasan saya memilih untuk memiliki sedikit teman. Bagi saya justru karena sedikit itulah saya bisa benar-benar menyaring siapa saja yang bisa jadi teman saya dan setidaknya saya bisa lebih total menjadi teman bagi mereka. Dalam setiap pertemanan yang saya bina, saya berusaha untuk maksimal melakukan apapun sebagai teman bagi teman-teman saya. Saya berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka. Sehingga harapannya saya bisa merasa utuh hanya dengan jumlah teman saya yang terbatas itu.
Tapi entahlah dalam prakteknya semua tidak semulus yang saya bayangkan. Saya merasa tidak dianggap terlalu berarti. Hal yang simpel adalah tiap kali saya punya waktu senggang saya selalu berusaha menghubungi teman-teman saya. Barangkali ada satu waktu dimana yang lain juga ada waktu sehingga kami bisa bertemu. Dan bahkan untuk pekan teduh kali ini. Saya sudah menghubungi salah satu teman saya, memberitahukan berapa hari yang saya punya untuknya. Berharap dia juga mengharapkan bisa bertemu saya, maka saya menunggu dia menghubungi saya. Karena memang dia punya kesibukan jadi tentulah lebih mudah dia saja yang tentukan harinya. Saya tau dia mengerti tentang itu, yaaa seharusnya dia menghubungi saya segera. Tapi ternyata itu hanya harapan kosong. Tak ada kabar, bahkan sampai hari-hari terakhir pekan teduh ini.
Bagaimana teman saya yang lain? Saya punya teman yang juga sedang berpekan teduh seperti saya. Dia tau betul saya membutuhkan teman di saat-saat seperti ini. Sudah saya coba menghubunginya di awal, tapi karena dia ada acara akhirnya kami batal menghabiskan waktu bersama. Oke saya mengerti. Tak masalah. Tapi lagilagi saya berharap nanti saat dia sudah punya waktu dia pasti menghubungi saya. Dan rupanya ini juga sekedar harapan kosong. Tak bersambut. Yang ada di kepala saya sekarang adalah kita tidak pernah benar-benar bersama dengan siapapun dan siapapun tidak ada yang benar-benar mengerti kita.
Ataukah semua ini justru kesalahan saya yang tak benarbenar mengenal diri sendiri? Mungkin saya bukanlah teman yang baik bagi mereka. Apa yang saya pikir sudah hal baik yang saya lakukan ternyata tidak berdampak baik bagi mereka. Ah sudahlah.. lebih mudah rasanya menyalahkan diri sendiri, karna dengan begitu saya hanya perlu berharap pada diri saya sendiri. Dan tentu saya tau pasti harapan itu akan terpenuhi atau tidak. Have a nice day everyone!

4 July 2012

Dan Akhirnya..

Saya bahkan tak mampu mempengaruhi hari siapapun untuk dijalani.

Saya merasa saya selalu berusaha menyapa orang-orang yang saya anggap penting dalam hidup saya. Bagi saya hal tersebut adalah ungkapan bahwa mereka masih ada di hati saya. Mungkin memang tidak setiap hari. Tapi setidaknya saya mencoba membuat mereka sadar bahwa mereka masih punya arti. Dan saya cukup yakin mereka akan mencari saya atau sedikit kehilangan saya saat saya tak lagi menyapa, karena saya juga berarti untuk mereka. Ah tapi ternyata saya salah..

Apakah ini tentang kesibukan? atau tentang dunia yang tidak lagi sama sehingga saya tidak cukup pantas untuk sekedar membuat hari mereka terisi? Awalnya saya tak pernah menyadari keadaan ini. Semua seakan baik-baik saja. Mengapa begitu? Karena saya tidak punya pembanding.

Hingga pada suatu hari saya sadar, ada yang lain di sorot mata dan tingkah laku mereka. Mereka terlihat lebih bahagia dan ceria bersama yang lain daripada dengan saya. Bahasa tubuh yang tidak canggung ah bahkan sepanjang umur persahabatan kami yang hingga kini sudah seumuran dengan umur anak SD tingkat akhir, tak pernah tampak bahasa tubuh senyaman apa yang saya lihat antara mereka dengan yang lain. Hal lain yang menyadarkan saya adalah bahkan 'ketidakhadiran' saya tidak membuat mereka berusaha mencari.

Cemburu. Mungkin sebagian dari sekian yang saya kisahkan akan berkata itulah alasannya. Tapi tak demikian menurut saya. Saya tidak sedang ingin mereka menjauhi yang lain atau setidaknya memperlakukan saya setara dengan yang lain atau bahkan dispesialkan. Tidak, saya tidak minta itu semua. Saya hanya sedang menyayangkan, karena saya baru sadar setelah sekian lama bersama. Baru sadar bahwa mereka tidak senyaman itu dengan saya. Atau bolehkah saya bilang mereka malu berhubungan dengan saya saat mereka bahkan tidak memperkenalkan saya pada yang lain ditengah kebersamaan di suatu kesempatan yang tidak disengaja itu? Mereka tidak bangga.. atau justru mungkin saya yang tak mampu..

3 July 2012

Tentang Hidup


Terkadang kita merasa bahwa hidup ini terasa berat untuk dijalani, tapi sedetik kemudian kita tak lagi merasa sedemikain buruk. Hidup akan memperlakukan kita sesuai dengan sudut pandang tentang hidup yang kita miliki. Kita merasa berat menjalani hidup karena kita merasa kehidupan kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi bukankah semua itu diluar kuasa kita sebagai manusia? Daripada hidup dengan terus meratap lebih baik kita bersyukur atas segalanya yang telah Tuhan tentukan. Ada kalanya kita bisa memilih, tapi ada pula saat dimana kita tidak bisa melawan takdir dan harus menjalani apapun yang ada dihadapan kita. Biarkan Tuhan jalankan kuasanya dan ambilah apa yang menjadi porsi kita. Jika kita tau batas batas apa yang kita boleh lakukan dan tidak, maka dengan sendirinya keikhlasan itu tumbuh.

Yang terpenting jangan pernah menjadi buruk. Kalaupun nasib kita sedang buruk, setidaknya tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik yang sedang bernasib buruk. Hal baik bukanlah suatu alasan dari penyesalan dalam hidup. Bagi saya hidup itu tentang berdoa, berusaha dan bersyukur. Apapun bisa saja terjadi dalam hidup kita, dan apapun yang terjadi kita harus tetap berteguh pada jalan Tuhan.